khutbah generasi

Detail Khutbah

Default Gambar
Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Alam bagi Generasi Mendatang

Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Alam bagi Generasi Mendatang

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَأَرْسَلَ رَسُولَهُ مُحَمَّدًا صَاحِبَ الشَّفَاعَةِ فِي يَوْمِ القِيَامَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ المُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ }:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ{ وَقَدْ قَال}: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا{ .

Hadirin jemaah salat Jum’at yang berbahagia,

Sebagai pembuka, khatib ingin mengingatkan kita semua untuk senantiasa meningkatkan takwa dengan mematuhi segala perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, seraya meneladani Baginda Nabi Muhammad saw sebagai penyampai risalah dan teladan sempurna, agar kita kelak dipertemukan dalam kebahagiaan abadi di janah-Nya.

Pada kesempatan kali ini, kita akan menyampaikan pesan-pesan etis Islam yang berkaitan dengan tema “Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Alam bagi Generasi Mendatang”. Ada dua pokok persoalan yang akan dibahas di sini yaitu fakta biologis bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa beregenerasi dan tugas manusia sebagai khalifah yang dibebankan amanah untuk memakmurkan bumi.

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Manusia bukanlah makhluk abadi, tapi makhluk yang senantiasa terus beregenerasi. Setiap generasi manusia tua nantinya akan digantikan dengan tunas-tunas baru. Hal ini sebagaimana disampaikan Al-Qur’an pada Q.S. An-Nisa’ [4]: 1:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam a.s. dan Hawa tidak diciptakan melalui proses evolusi hayati seperti makhluk hidup lainnya, tetapi diciptakan secara khusus seorang diri, lalu diciptakanlah pasangannya dari dirinya. Mekanismenya tidak dapat dijelaskan secara sains. Selanjutnya, barulah anak-anaknya lahir dari proses biologis secara berpasangan-pasangan sesuai kehendak-Nya.

Sebagai pengganti, generasi baru akan melanjutkan tugas dan amanah yang sebelumnya telah diemban oleh generasi lama. Maka generasi lama tidak boleh meninggalkan mereka tanpa modal dan sumber daya memadai sehingga memberatkan calon penggantinya. Pada Q.S. An-Nisa’ [4]: 3, Al-Qur’an memperingatkan umat Islam untuk mampu menjamin keberlanjutan generasinya dengan tidak meninggalkannya dalam keadaan lemah dan tidak sejahtera. Allah Swt berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا.

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).

 

Sidang Jum’at yang berbahagia,

Berkaitan dengan tugas dan amanah manusia di dunia, Ragib Al-Ashfihani mengemukakan bahwa ada dua alasan utama atau maqāshid di balik penciptaan manusia yaitu sebagai hamba yang beribadah kepada Tuhannya, sebagaimana pada Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Lalu kedua, sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas sebagai perwakilan Tuhan dalam melakukan manajemen yang baik untuk memakmurkan bumi. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30 dan Q.S. Hud [11]: 61. Allah Swt berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30).

Dalam Al-Qur’an, kata “khalifah” memiliki makna ‘pengganti’, ‘pemimpin’, ‘penguasa’, atau ‘pengelola alam semesta’.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkannya. Dalam kaitan tersebut, manusia memiliki beban amanah dari Tuhan untuk memperlakukan alam dengan baik serta mencegahnya dari kerusakan sehingga tetap lestari.

Manusia mengemban amanah dan tugas memakmurkan bumi sebagai khalifah bukan tanpa sebab. Manusia diciptakan dengan anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu berupa akal pikiran dan potensi pengetahuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 31-32, Allah Swt menjelaskan bahwa Adam a.s. telah diberikan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh selainnya dan bahkan para malaikat mengakuinya sebagai kelebihan Nabi Adam a.s. dan nantinya diteruskan pada bani Adam a.s. selaku keturunannya.

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ.

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!” Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Jemaah Jum’at hafizhakumullah,

Maka berdasarkan beberapa keterangan yang disarikan dari Al-Qur’an di atas, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam kaitannya dengan tema yang diangkat kali ini. Pertama, manusia merupakan makhluk yang secara biologis akan terus berkembangbiak sampai akhir masa, maka ia tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menghidupi dirinya dengan layak namun juga mempersiapkan kehidupan yang baik bagi generasi selanjutnya.

Kedua, dalam kaitannya dengan sumber daya alam yang tersedia di muka bumi ini, manusia diberikan amanah sebagai khalifah dan bertugas untuk memakmurkannya dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya serta jangan sampai merusaknya. Jika dihayati hubungan antara poin pertama dan kedua, maka salah satu indikator keberhasilan manusia dalam memahami statusnya sebagai makhluk biologis yang akan selalu beregenerasi serta khalifah yang bertugas memakmurkan bumi ialah dengan mampu menjaga sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Sebagai catatan renungan terakhir, salah satu cara untuk menjadi manusia yang mampu menunaikan segala amanah dan tugasnya dengan optimal ialah dengan meniru teladan Nabi Muhammad. Dengan memahami bahwa segala bentuk aktivitasnya bisa menjadi role model bagi umat Islam diperoleh berasal dari bertubuhnya Al-Qur’an di dalam setiap lakunya. Maka memahami Al-Qur’an merupakan jalan paling dekat untuk menjadi manusia yang ideal. Sebagaimana dikatakan dalam hadis yang merekam jawaban Aisyah r.a.:

سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ

“Tatkala Aisyah r.a. ditanya tentang tabiat Rasulullah saw, ia menjawab: akhlak Nabi Muhammad saw ialah Al-Qur’an”.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

KHOTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ المُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المَحْبُوبُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالتَّقْوَى هِيَ وَصِيَّةُ رَبِّ العَالَمِينَ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ مِنْ خَلْقِهِ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ} :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.{وَأَمَرَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ بِالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي القُرْآنِ} :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا{ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا وَحَصِّلْ مَقَاصِدَنَا وَأَحْسِنْ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَر.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CV Muhammad Rus'an

Pemuda ayo lebih.baik

Pelukan pagi